oleh

Kembangkan Ekonomi Kerakyatan, Bang Eky Tolak Investor Kelola Obyek Wisata

Muhammad Alief-Feature, Kampus, Opini, Parawisata-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Konsep ekonomi kerakyatan merupakan sebuah konsep politik-perekonomian yang memusatkan pembangunannya pada rakyat. Konsep ini menempatkan koperasi sebagai medium pencapaian hasil, tanpa mengesampingkan peranan pasar dan negara.

Salah satu tokoh berpengaruh yang tidak begitu asing dibenak kita ialah Mohammad Hatta. Ia seorang negarawan yang melahirkan pemikiran-pemikiran intelektual di awal-awal kemerdekaan.

Lebih detailnya bisa kita temui pada pembahasan Fadli Zon dalam disertasinya yang berjudul “Pemikiran Ekonomi Kerakyatan Mohammad Hatta (1926-1959)”.

Patut kita berkaca pada gagasan-gagasan terkait ekonomi kerakyatan, sehingga Bung Hatta dijuluki sebagai bapak koperasi.

Pertanyaannya kemudian, apakah di era sekarang masih ada yang peduli tentang pengembangan ekonomi kerakyatan semacam itu? Tentu sudah sangat jarang kita temui inisiasi-inisiasi demikian.

Di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kota Palopo, hidup seseorang yang boleh dibilang memegang prinsip ekonomi kerakyatan, seperti Mohammad Hatta. Sosok itu akrab disapa Eki Anarchi atau Bang Eky.

Foto : IST

Namun perbedaannya, Bung Hatta bergerak pada ekonomi kerakyatan berbasis koperasi untuk kesejahteraan rakyat Indonesia, sedangkan Bang Eky bergerak pada potensi wisata yang ia bangun sendiri, yang bernama Sungai Jodoh, untuk menggerakkan ekonomi masyarakat disekitar.

Ia menolak sejumlah investor yang menawarkan diri untuk mengelola obyek wisata yang dirintisnya tersebut. Tapi dia menolak, dikarenakan investor tersebut ingin memagari sungai jodoh dan sudah pasti rakyat yang berjualan di dalamnya akan di keluarkan semena-mena dari tempat tersebut.

Beliau berpendapat bahwa rakyat akan susah, karena tidak bisa lagi berjualan di dekat sungai jodoh dan pengunjung sungai jodoh sudah pasti dikenakan tarif untuk masuk.

Menurut Bang Eky, jika dikelola pihak ketiga, maka bisa diperkirakan hanya akan menguntungkan investor saja, dan akhirnya rakyat tidak akan bisa lagi berjualan dilokasi wisata, kalaupun bisa tentu harus membayar sewa ke pengelola.

Foto : IST

Padahal sudah ada 5 investor yang siap mengelola Sungai Jodoh, namun prinsip Bang Eky, bahwa untuk apa harta kekayaan, jika hanya untuk diri sendiri, sementara rakyat dibuat susah.

Hingga saat ini, siapapun masih bebas melihat dan merasakan keindahan serta kerindangan Sungai Jodoh, yang masih terjaga keasriannya.

Hemat penulis, kekayaan dalam konteks alam semesta itu harus di nikmati oleh semua umat manusia. Bukan untuk segelintir orang saja, seperti umumnya di Indonesia.

Foto : IST

Menukil dari Nelson Mandela “bumi ini cukup untuk seluruh manusia, namun tidak cukup untuk satu orang yang serakah”.

Akhir dari penulis, semoga akan selalu ada ekonomi-ekonomi kreatif kerakyatan baru lainnya, yang di ciptakan oleh masyarakat seperti Bang Eki di Sungai Jodoh untuk menunjang perekonomian berbasis kerakyatan demi terwujudnya kesejahteraan sosial di Indonesia. (*)

Penulis 

Muh Akbar Hamzah
Ketua Umum HMJ Hukum Tata Negara 
UIN Alauddin Makassar