oleh

Di Muscab IMM Makassar Timur, Balon Wali Kota Abdul Rachmat Noer Bawakan Orasi Kebangsaan

Editor : Ridwan Lallo-Edukasi, Politik-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Bakal Calon Wali Kota Makassar, Abdul Rachmat Noer membawakan orasi kebangsaan dalam rangkaian kegiatan Musyawarah Cabang (Muscab) Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Makassar Timur di Aula Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan, Sabtu (12/10/2019) malam.

Tampil membawakan materi berjudul tantangan dunia mahasiswa memasuki industri 4.0, diramaikan perwakilan 9 Pimpinan Komisariat IMM se-Makassar Timur.

Abdul Rachmat Noer, menjelaskan peluang, ancaman dan tantangan revolusi industri 4.0. Salah satu diantaranya adalah disrupsi dunia usaha karena adanya sistem otomasi, penggunaan internet, kecerdasan artifisial dan penggunaan robot.

“Kesemua fenomena tersebut menjadi ciri khas revolusi industri 4.0 yang saat ini sedang berlangsung dalam kehidupan manusia,” tutur Abdul Rachmat Noer yang juga bakal calon (Balon) Wali Kota Makassar.

Bagi dunia usaha, sistem otomasi dan penggunaan robot sangat menguntungkan secara ekonomi, tetapi disisi lain melahirkan persoalan ketenagakerjaan.

“Dampak dari semua itu menimbulkan ancaman jutaan orang akan kehilangan pekerjaan,” ujar Rachmat yang saat ini menjabat sebagai GM of Human CapitalPT. Semen Tonasa.

Namun dibalik ancaman tersebut, generasi muda atau mahasiswa tidak perlu khawatir karena masih banyak ladang pekerjaan yang tidak bisa digantikan oleh robot.

“Misalnya sektor ekonomi kreatif yang bertumpu pada ide dan kreativitas. Bidabg ini sukit bahkan tidak akan tergantikan oleh robot dan akan tetap eksis untuk jangka panjang,” jelas Abdul Rachmat Noer.

ARN menyarankan, untuk bisa eksis dan survive dalam setiap perubahan lingkungan maka generasi muda perlu membekali diri dengan hard skill dan softskill. “Itu bisa kalian peroleh melalui proses kaderisasi selama aktif didunia kemahasiswaan,” tegas ARN.

Rachmat menegaskan, kehadiran industri 4.0 justru mendorong lahirnya kembali nilai-nilai kemanusiaan yang selama ini tergilas oleh modernitas. “Kita tidak perlu berkecil hati menyambut era industri 4.0 karena dimasa ini humanisme dan universalitas value semakin dibutuhkan,” papar Rachmat. (*)