oleh

Sehari, Limbah Medis Capai 15 Ton

Editor : Sofyan Basri-Megapolitan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Rencana Pemprov menambah mesin Insenerator akan kembali terwujud. Hal itu setelah Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah (NA) mendapatkan informasi jika Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) dari Rumah Sakit (RS) se-Sulawesi Selatan mencapai 15 ton sehari.

Kondisi yang terjadi, mesin Insenerator yang dimiliki Sulsel belum cukup untuk diolah menjadi zat yang tidak berbahaya. Sebagai solusinya, Sulsel harus mengirim sebagian besar limbah itu ke Surabaya untuk diurai.

Pemprov Sulsel melalui Dinas Pengelolaan Lingkungan Hidup (PLH) Sulsel telah mengoperasikan satu unit Insenerator berkapasitas 100 Kg perjam. Hanya saja, dalam sehari alat yang ditempatkan di Kawasan KIMA ini hanya bisa mengurai 2,4 ton limbah B3.

Kepala UPT Pengelolaan Limbah DPLH Sulsel, Tamrin menyebutkan Insenerator yang dimiliki pihaknya baru beroperasi tiga minggu. Insenerator ini sempat terhambat masalah perizinan di KLHK.

“Meski baru tiga minggu, kami sudah menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp200 juta. Dalam sehari kita bisa mendapatkan PAD Rp30 juta. Sejauh ini baru limbah dari Makassar yang kami olah, di mana dalam sehari ada 3 ton dari semua RS,” kata Tamrin, Jumat (20/9).

Dirinya berharap ada penambahan Insenerator tahun depan. Sehinggalimbah B3 tak perlu lagi dikirim ke Pulau Jawa. Sebagai pertimbangan, ongkos angkut limbah B3 jika dikirim ke Surabaya sekitar Rp35 ribu perkilogram. Sementara jika diurai di Makassar hanya butuh Rp15 ribu.

“Masih banyak yang dikirim ke Surabaya, makanya kita berharap ada penambahan Insenerator. Satu unit kapasitas 100 Kg investasinya Rp7 miliar. Insenerator kami ini juga jadi percontohan, sudah ada tiga daerah yang berkunjung ke sana,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Sulsel HM Nurdin Abdullah berjanji siap menganggarkan pengadaan insenerator lagi. Terlebih alat ini selain mendatangkan PAD, juga bisa membantu efesiensi pengelolaan limbah B3.

“Soal pagu anggaran, tidak ada lagi perebutan dapat anggaran. Tapi penyiapan program. Anggaran tidak ada masalah yang penting program produktif. Kayak pengadaan insenerator ini, silahkan dikoordinasikan dengan Pak Kepala Bappeda,” ungkapnya. (*)