oleh

Pegiat Literasi Sebut Razia Buku Bertentangan Dengan Nilai Hak Asasi

Editor : Sofyan Basri-Megapolitan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Razia buku yang terjadi di Kota Makassar beberapa waktu lalu masih terus menjadi topik yang hangat dikalangan pegiat literasi di Kota Makassar.

Pasalnya, razia tersebut dinilai mencederai nilai-nilai demokrasi yang ada di Indonesia. Apalagi, razia buku tidak boleh dilakukan oleh siapapun tanpa ada perintah dari pengadilan.

Salah satu pegiat literasi di Kota Makassar, Muh Ferdhyadi mengaku miris melihat fenomena razia buku di Kota Makassar akhir-akhir ini. Menurutnya, hal itu bertentangan dengan semangat para pegiat literasi.

“Ini terbalik dengan kegiatan literasi yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir di Makassar, ini akan membuat aktivitas literasi seperti membuat lapak baca komunitas, membangun perpustakaan publik dan melaksanakan pelatihan menulis menjadi takut,” kata Ferdy.

Ia menilai ketakutan tentang bahaya penyebaran ajaran komunis yang menjadi alasan dari razia buku justru sama sekali tidak memiliki pijakan argumentasi yang jelas dan bertentangan dengan nilai-nilai hak asasi.

“Semua orang punya hak untuk memilih jenis bacaan yang mereka sukai. Razia buku justru akan semakin membatasi ruang-ruang pengetahuan berkembang secara dialektis,” jelasnya.

Kata dia, yang mesti dilakukan oleh pemerintah maupun aparat berwenang adalah berani memberikan sanksi bagi kelompok-kelompok yang melakukan razia buku.

“Tapi nyatanya sejauh ini, kami tidak melihat tindakan-tindakanya nyata dari pemerintah dalam mengatasi polemik ini,” pungkasnya. (*)