oleh

Golkar-NasDem Show Of Power Lagi

Editor : Sofyan Basri, Suryadi, Penulis : Armansyah-HL-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Partai Golkar dan NasDem diprediksi bakal kembali unjuk kekuatan pada Pilkada serentak 2020 mendatang di Sulawesi Selatan.

Berkaca pada Pemilu 17 Arpil lalu, kedua partai itu meraih suara yang fantastis. Golkar dan NasDem nyaris merajai semua tingkatan, baik di tingkat DPRD kabupaten/kota, DPRD provinsi maupun tingkat DPR RI.

Untuk Partai Golkar, total 156 kursi diraih. Rinciannya, 4 kursi untuk DPR RI, 13 untuk DPRD Sulsel dan 139 untuk DPRD kabupaten/kota.

Sementara Partai besutan Surya Paloh (NasDem) total kursi yang diraih mencapai 121 kursi. Rinciannya, untuk tingkat kabupaten kota, NasDem meraih 105 kursi, 12 kursi di tingkat DPRD provinsi dan 4 kursi untuk tingkat DPR RI.

Khusus untuk 12 kabupaten/kota yang menggelar Pilkada, Partai Golkar tampil sebagai pemenang pada enam daerah. Masing-masing Maros, Soppeng, Tana Toraja, Luwu Utara, Luwu Timur dan Selayar.

Adapun NasDem berhasil sebagai juara pada empat daerah yakni, Makassar, Pangkep, Barru dan Toraja Utara.
Sekretaris DPW NasDem Sulsel, Syaharuddin Alrif mengatakan, pada intinya kader-kader partai telah siap menghadapi Pilkada 2020.

Wakil Ketua DPRD Sulsel itu mengaku tengah menyiapkan kader terbaiknya untuk maju bertarung pada pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Syahar mengatakan, dari 12 daerah yang menggelar Pilkada, tiga daerah diantaranya sudah menetapkan satu nama untuk diusung. Masing-masing Irwan Bachri Syam di Luwu Timur, Nicodemus Biringkanae di Tana Toraja dan Yosia Rinto Kadang di Toraja Utara.

“Kader kita yang hebat telah disiapkan agar kemenangan bisa kita raih. Termasuk tiga daerah itu,” jelasnya.

Nicodemus Biringkanae saat ini menjabat sebagai Bupati Tana Toraja. Sementara Yosia Rinto Kadang adalah Ketua DPD NasDem Torut yang juga Wakil Bupati Torut. Adapun Irwan Bachri Syam merupakan Wakil Bupati Lutim sekaligus Ketua DPD NasDem Luwu Timur.

Selain itu, kata Syahar, Bupati Barru, Suardi Saleh diprediksi kembali maju melalui partai besutan Surya Paloh tersebut. Di daerah ini, NasDem merajai perolehan suara pemilu dengan lima kursi dari total 25 kursi DPRD Kabupaten Barru.

“Kami yakni NasDem mampu meraih kemenangan di sejumlah daerah yang menggelar Pilkada serentak 2020. Apalagi NasDem pada Pemilu 2019 ini mampu menang besar sehingga punya nilai tawar untuk mengusung calon kepala daerah pada Pilkada nanti,” jelasnya.

Kata Syahar, partainya juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi kader potensial yang ingin bertarung.
Khusus untuk Pilwalkot Makassar, Syahar bercita-cita menyandingkan kemenangan Pemilu 2019 dan Pilwalkot Makassar 2020.

Hal itu menurut Syahar bukan hal mustahil. Pasalnya, ada beberapa kader NasDem yang memang berpeluang dan punya kans besar untuk bertarung di Pilwalkot Makassar. “Kami ingin kemenangan di Makassar saat Pileg lalu juga terjadi saat Pilwalkot 2020,” tegas Syahar.

Saat ini, lanjut Syahar, pihaknya tengah membangun komunikasi terhadap beberapa partai lainnya. “Komunikasi tetap jalan, dan sudah terbangun,” tuturnya.

Ketua DPD I Golkar Sulael, Nurdin Halid (NH) menargetkan kemenangan di enam daerah dari 12 daerah yang ikut melangsungkan Pilkada serentak tahun depan.

“Untuk Pilkada 2020, kita target menang di enam daerah. Kami telah menetapkan tim penjaringan calon kepala daerah dan wakil kepala daerah di 12 daerah,” katanya.

Usai melakukan penjaringan di tingkat daerah, calon kepala daerah yang mendaftar di DPD II selanjutnya akan menjalani proses fit and proper test di tingkat provinsi yang selanjutnya akan dibawa ke DPP untuk diputuskan.
Namun sebelum diputuskan untuk diusung, Partai Golkar selanjutnya akan melakukan survei untuk mengukur sejumlah indikator terhadap kandidat yang mencalonkan diri di Golkar.

“Setelah proses penjaringan di daerah selesai kita melakukan survei terhadap kandidat yang mendaftar, hal itu untuk mengukur peluang calon, dan dari hasil survei akan menjadi ukuran DPP menetapkan nama,” terang Nurdin Halid.

Oleh karena itu, pihaknya mengimbau kader-kader yang akan maju untuk lebih intens melakukan sosialisasi dan pendekatan dengan partai politik. “Yang kita harapkan adalah menang di Pilkada. Bukan sekadar maju bertarung,” pungkasnya.

Pengamat Politik Universitas Hasanuddin, Andi Lukman Irwan mengatakan, peta kekuatan Golkar saat ini masih berada pada eksekutif atau penguasaan birokrasi sehingga peluang memenangkan kontestasi pilkada sangat besar.

Peluang tersebut juga diprediksi akan dilakukan NasDem. Sebab, pengalaman pesta demokrasi sebelumnya yakni di pileg partai besutan Surya Paloh itu mampu menyaingi Golkar.

“Saya kira ada banyak faktor atau indikasi NasDem bicara banyak di Pilkada serentak nanti. Kekuatan di parlemen begitu kuat di daerah karena adanya bertambah suara,” kata Lukman.

“Kalau faktor ini dijadikan dan dimanfaatkan NasDem untuk memenangkan pasangan calon, ini bisa potensi untuk memenangkan di beberapa daerah di Sulsel,” tambahnya.

Belum lagi, kata Lukman, tokoh-tokoh politik lokal dan elit politik tingkat pusat yang sebelumnya di partai lain kemudian bergabung dalam gerbong NasDem, akan menjadi kekuatan tambahan bertarung di pentas Pilkada.
“Solidaritas kader NasDem ini bergerak tanpa ada riak-riak di internal. Nah, saya kira ini salah satu juga faktor NasDem menjadi perhatian dan diperhitungkan,” katanya.

Disinggung soal skenario koalisi Golkar-NasDem, kata Lukman, hal tersebut bisa saja terjadi dalam politik. Namun, apabila terwujud maka akan menjadi kekuatan besar. Utamanya di Pilwalkot Makassar.

“Kalau kemudian Golkar-NasDem di Makassar bisa mengusung kandidat bersama-sama pasti jadi kekuatan besar. Karena, mereka begitu dominan di Pileg dan memiliki gerbong tokoh politik yang sudah mengakar ditambah kekuatan finansial dari tokoh-tokoh kedua partai, kalau ini bisa terwujud paling potensial untuk memenangkan Pilwalkot,” jelasnya.

Terpisah, Manager Konsultan Lembaga Survei Celebes Research Center (CRC), Saiful Bahrie mengatakan, Golkar-NasDem diprediksi akan mendorong kader maju sebagai kontestasi di sejumlah daerah. Hal itu dampak pada memenangkan Pileg 2019.

“Kemungkinan besar bisa jadi karena politik itu dinamis, disuatu daerah Golkar dan NasDem akan berhadapan. Bisa juga, didaerah lain Golkar dan NasDem bisa berkoalisi,” kata Saiful.

“Saya rasa menjelang Pilkada situasinya masih sangat cair dan dinamis. Tergantung, situasi dan kondisi (politik) di daerah tersebut,” tambahnya.

Ditanya terkait peluang pemenang antara Golkar dan NasDem pada Pilkada 2020 di Sulsel, Kata Saiful, pihaknya belum mengetahui prediksinya. Pasalnya, kedua partai belum menunjukkan figur yang bakal didorong.

“Pertarungan pilkada bukan bicara mesin parpol tapi berdasarkan hasil riset kita, faktor utama pilkada secara langsung bagi pemilih itu biasanya faktor figur cukup dominan memenangkan pilkada,” katanya.

Menurut Saiful, parpol harus menjadikan Pileg sebagai alat evaluasi untuk melihat kemampuan kadernya. Sebab, mencari sosok kandidiat untuk didorong dengan melihat hasil pileg sangat keliru.

“Misalnya Golkar pemenang pileg disuatu daerah. Mesti menguasai parlemen namun penilaian publik melihat tidak bisa memimpin di eksekutif, bisa jadi tidak mengusung kadernya. Saya rasa, pertarungan pilkada itu pertarungan figur bukan mesin parpol,” pungkasnya. (E)