oleh

Cari Celah Petahana

Editor : Lukman-HL, Pilkada-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Maju sebagai bakal calon pada Pilkada serentak 2020 tentu tak hanya sekadar niat saja. Sebelum mendeklarasikan diri, para figur harus mempersiapkan diri, mental, popularitas, elektabilitas serta dukungan partai politik menjadi bekal yang sangat penting.

Tak hanya itu, program-program yang ditawarkan kepada masyarakat harus disusun dengan strategis sehingga menimbulkan ketertarikan oleh rakyat untuk menempatkan pilihannya pada figur tersebut. Terlebih lagi bagi orang baru yang belum memiliki pengalaman berpolitik sama sekali.

Pengamat Politik Universitas Bosowa (Unibos), Arief Wicaksono mengatakan, seorang figur baru yang maju dalam kontestasi Pilkada harus jeli melihat kekurangan sang petahana. Penilaian masyarakat terkait pemimpin pemerintahan sebelumnya perlu diperhatikan untuk menjadikan kekurangan tersebut sebagai catatan bagi penantang baru.

Menurutnya, tingkat kepopuleran petahana sangat tinggi, para pendukungnya pun sudah jelas, sisa mengeratkan kembali hubungan dan komunikasinya dengan masyarakat. Namun kata Arief, pendatang baru tidak boleh surut semangatnya, ia harus membangun komunikasi lebih intens di depan warga.

“Secara teorinya mudah saja bagaimana mereka bisa mendapatkan hati dan simpati dari masyarakat, karena sebaik-baiknya petahana pasti ada juga yang jelek dari petahana yang mungkin masyarakat menyadari itu kekurangannya juga,” ucapnya, Minggu (11/8).

“Kalau ada figur baru masuk dan kemudian bisa mengambil hati melalui celah itu saya kira bisa jadi starting awal yang bagus. Kegagalan atau kekurangan pemerintah lalu bisa dikapitalisasi untuk dijadikan sarana para figur baru mencari dukungan atau simpati di masyarakat,” sambungnya.

Ia menambahkan, selain petahana dan pendatang baru, adapula figur yang pernah bertarung tetapi gagal. Untuk jenis penantang ini jika menggunakan mesin politik dan power yang lebih bagus dari sebelumnya maka akan menjadi peluang besar untuknya. Sementara bisa juga kegagalan tersebut menjadi bumerang baginya, parpol, masyarakat ataupun konsultan politik enggan meliriknya.

“Lalu ada juga kategori ketiga orang yang pernah bertarung tapi gagal itu juga sebetulnya punya peluang tapi biasanya jarang dihitung. Makanya selalu jadi kuda hitam yang mencoba mencoba terus,” ujarnya.

Direktur Nurani Strategic, Nurmal Idris menyebut figur baru yang ingin bertarung dalam kontestasi Pilwalkot Makassar harus kreatif. Pasalnya, posisi sebagai pendatang baru kelemahannya berada pada popularitas.

Sehingga, ada dua hal yang mesti dilakukan oleh kandidat tersebut agar bisa berbicara banyak dipentas pilkada 2020 mendatang. Yakni, bakal calon harus meningkatkan popularitas dan akseptibilitas (kesukaan). Setelah itu, baru memikirkan elektabilitas (keterpilihan).

“Tentu, mereka ini yang baru harus memperbanyak mensosialisasikan diri dulu ke masyarakat. Jadi, itu (popularitas) yang pertama dulu dilakukan,” ucap Nurmal.