oleh

Pakar Sebut IAS, SYL, DP Tak Kuat Lagi

Editor : Iskanto-HL, Pilwalkot Makassar, Politik-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Perbincangan Pilwalkot Makassar 2020 makin ramai. Sejumlah nama yang diprediksi maju di Pilwalkot pun mulai ramai. Bahkan, sudah ada yang berani melakukan deklarasi walau belum mendapatkan kendaraan politik.

Mereka antara lain Aliyah Mustika Ilham, Moh. Ramdhan Pomanto, Irman Yasin Limpo, Syamsu Rizal, Onasis, Sukriansyah, Munafri Arifuddin dan beberapa lainnya disebut-sebut akan maju pada Pilwalkot. Dari sejumlah nama itu, masing-masing memiliki kekuatan dan pengaruh politik di Kota Makassar.

Misalnya, Aliyah Mustika Ilham yang merupakan istri mantan walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin, Irman Yasin Limpo mewakili klan Yasin Limpo, Moh. Ramdhan Pomanto dan Syamsu Rizal adalah mantan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Makassar. Belum lagi Sukriansyah memiliki power sebagai staf Menteri Pertanian.

Pakar Politik Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar, Firdaus Muhammad mengatakan bahwa kondisi perpolitikan sekarang ini sudah lebih cair. Dimana kekuatan SYL tidak lagi sama ketika menjabat gubernur dan menjadi pimpinan partai. Kepawaiannya dalam dunia politik memang diakui tapi sudah tidak mampu lagi membawa pengaruh besar bagi Pilwalkot.

“Begitu juga Pak IAS, saya kira Pak IAS sudah tidak mengendalikan partai, ketokohannya tidak sekuat dulu,” kata Firdaus, Jumat (9/8).

Menurutnya, Moh. Ramdhan Pomanto pun sebagai mantan wali kota belum kuat. Apalagi jika dilihat dari pengalamannya dalam Pilwalkot 2018 lalu, Danny tidak mampu mempertahankan kodratnya sebagai petahana. Meskipun bergabung dalam partai, tapi justru itu membuatnya terkendala karena berhadapan dengan kader lainnya dari partai yang sama.

“Momen politiknya Pak Danny tidak secantik ketika beliau menjadi wali kota yang kemudian cuti menjadi peserta. Pak Danny bergabung dipartai tapi justru kendalanya sandungannya di partainya sendiri. Berhadapan dengan Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) NasDem Makassar, Andi Rachmatika Dewi (Cicu) misalanya,” jelasnya.

Dengan begitu, ini akan memberikan peluang bagi figur baru untuk mencari tahu dan mengisi celah dari masing-masing bakal calon agar dipercaya masyarakat. Untuk itu, kata dia, muncullah nama seperti Onasis.

“Apa dasarnya yah orang menghitung, Onasis orang dekatnya Megawati misalnya, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sekarang partai pemerintah, bisa membackup,” ungkapnya.

Disisi lain, Sukriansyah juga patut diperhitungkan. Firdaus mengatakan bahwa orang-orang akan memilih UQ representasi dari menteri pertanian. Artinya, ada rasionalisasi bagi UQ untuk maju.

“Bahwa peluangnya bertambah tergantung dari kerja-kerja politiknya. Masih banyak yang bisa terjadi, tapi justru munculnya figur baru ini melahirkan peta yang memungkinkan orang baru terdorong,” pungkasnya. (*)