oleh

Sertifikat dan Kapasitas

Editor : Iskanto-HL, Voxpopuli-

BANYAK orang yang memiliki sertifikat ijazah yang kemudian mendapatkan pengakuan dari publik bahwa dia adalah seorang yang ahli. Contoh seorang dokter. Jika dia telah memiliki sertifikat ijazah kedokteran atau bahkan spesialis, maka publik akan segera mengakui keahliannya sebagai seorang dokter dan spesialis.

Bahkan terkadang masyarakat tidak butuh melakukan pembuktian terlebih dahulu, begitu seseorang memperlihatkan ijazahnya atau sertifikat keahliannya maka pada saat itu pengakuan atas dirinya telah berlaku.

Fenomena ini tentu saja memiliki banyak celah kekurangan. Jika digunakan atau dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab maka efeknya bisa sangat fatal. Akan banyak sekali kerugian yang berpotensi dialami oleh masyarakat ketika orang-orang yang memanfaatkan gelar-gelar aktif untuk mencari uang dan ketenaran.

Ada sebuah cerita menarik. Ketika seorang pria mengendarai motor, lampu traffic light menunjukkan warna kuning. Sang pengendara memutuskan untuk terus melaju. Ternyata di ujung jalan ya dihentikan oleh petugas polisi. “Bapak saya tilang karena melanggar lampu merah”. Bapak yang mengendarai motor itu pun langsung membela diri “lampunya masih kuning pak. Belum merah”. Akhirnya perdebatan panjang terjadi, hingga akhirnya seorang pria nyeletuk untuk mengakhiri pertikaian “Sudahlah pak. Diam saja. Pak polisi lebih tau yang benar”.

Hehehe, kejadian seperti itu mungkin biasa Anda alami. Meskipun Anda merasa yakin dengan apa yang Anda jalani, tetapi pengakuan publik terhadap pria berseragam adalah standar. Terkadang kita lebih menghargai posisi penampilan daripada kebenaran. Lebih menghargai sertifikat daripada isi dan substansi. Ini bisa menjelaskan mengapa banyak orang tertarik untuk mendapatkan gelar, tanpa harus bersusah payah melalui proses pendidikan. Karena yang mereka butuh adalah pengakuan publik.