oleh

Jumras Melawan! Seharusnya Nurdin Abdullah yang Minta Maaf

Editor : Iskanto, Penulis : Fahrullah-HL, Megapolitan, Pemerintahan-

MAKASSAR, RAKYATSULSEL.CO – Mantan Kepala Dinas Marga dan Kepala Biro Pembangunan Pemprov Sulsel, Jumras tak gentar dengan ancaman Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah (NA) yang ingin memenjarakannya menyusul penjelasan Jumras di sidang Hak Angket DPR.

Jumras mengaku siap menghadapi NA di pengadilan. “Silahkan beliau punya hak, biar di pengadilan semuanya makin jelas dan hakim menvonis apakah keterangan saya di forum Hak Angket DPRD Sulsel itu, benar atau bohong,” tutur Jumras.

Jumras lalu menegaskan dirinya menolak meminta maaf pada Gubernur. Pertama, kata Jumras, yang menfitnah dan menuduh Gubernur adalah Anggu, Feri dan Sumardi (Kakak Wagub yang kini menjabat Kadispenda Pemprov Sulsel).

“Karena Anggu yang bilang dia bersama Feri sudah membantu Rp10 miliar biaya kampanye Pak Gubernur Nurdin Abdullah di Pilkada kemarin. Dan omongan Anggu itu kemudian dibenarkan oleh Sumardi, sehingga Sumardi meminta saya memberikan proyek jalan itu ke Anggu dan Fery,” jelasnya.

Yang kedua, lanjut Jumras, silahkan Gubernur membawanya ke meja hijau untuk memenjarakan dirinya. “Pak Gubernur bersabar saja, karena vonis hakim nantinya, akan menentukan siapa yang akan meminta dan memberi maaf,” kata Jumras.

Meski demikian, Jumras sempat bernada tinggi, bahwa seharusnya Gubernur Nurdin Abdullah yg meminta maaf ke dirinya, karena telah menuduh dan menfitnahnya terima suap dari kontraktor, sehingga menolak memberikan 3 proyek jalan ke Anggu dan Feri yang oleh keduanya memintanya atas nama Gubernur Nurdin Abdullah.

“Pokoknya, saya siap dan saya menunggu panggilan pengadilan atau polisi. Saya siap hadapi Pak Gubernur di pengadilan,” kata Jumras.

Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah membantah pernyataan Jumras di sdiang hak angket itu. “Itu bohong besar. Lillahi taala kalau ada sumbangan kepada saya (saat Pilgub),” kata Nurdin.

NA menegaskan bahwa apa yang diungkapkan oleh mantan Kepala Biro Pembangunan Sulsel Jumras di sidang hak angket DPRD Sulsel itu pembohongan publik. “Bohong besar itu. Tidak ada seperti itu. Apalagi sama kontraktor sampai mereka berikan uang hingga miliaran,” tegas Nurdin.

Nurdin memberi ultimatum kepada Jumras, meminta secara terbuka kepada gubernur dan keluarga. “Saya beri waktu 2×24 jam meminta maaf secara terbuka. Kalau tidak saya akan laporkan,” beber NA.

Wakil Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman enggan berkomentar banyak nama kakak kandungnya yang disebut-sebut oleh Jumras dalam sidang hak angket. “Saya kira sudah ada ralatnya dan saya baca itudi media kalau pak Jumras meralat,” singkatnya.

Wakil Ketua Pansus Hak Angket DPRD Sulsel, Selle KS Dalle siap memberi perlindungan kepada Jumras jika mendapat intervensi.
Dia juga menyebutkan jika ada hal yang keliru atas pernyataan Jumras dalam pemeriksaan tersebut, tim hak angket memiliki bukti yang kuat. Selain direkam melalui suara pihaknya juga melakukan perekaman melalui video. “Yang mana dianggap keliru dan yang mana mau dicabut,” sebutnya.

Politikus Demokrat ini juga menyebutkan, jika Jumras ingin mendapatkan perlindungan saksi atau Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) tim angket bersedia membantunya. Karena kata Selle, setiap warga negara memiliki hak mendapatkan perlindungan walau saat ini Jumras belum melakukan komunikasi terhadap tim hak angket.

“Kita belum bicara campuri (jika Jumras ingin dilapor) kecuali dia meminta kepada tim hak angket (perlindungan) maka kita akan lindungi,” tuturnya.

Ketua Pansus Hak Angket DPRD Sulsel, Kadir Halid menyebutkan jika keinginan Nurdin Abdullah mempidanakan Jumras adalah haknya. “Itu pribadi dia,” katanya.

Kadir juga menyebutkan apa yang disampaikan oleh Jumras pada saat persidangan, tim hak angket memiliki bukti-bukti dan itu dibawa sumpah. “Apa yang disampaikan oleh pak Jumras semua itu benar, kan dibawa sumpah,” sebutnya.

Politisi Partai Golkar itu juga menegaskan akan memanggil nama-nama yang disebutkan para saksi saat sidang hak angket. Termasuk nama Andi Sumardi. “Kita juga akan panggil Sumardi dan nama lainnya,” tegas Kadir Halid.

Sebelumnya, mantan Kepala Biro Pembangunan Sulsel Jumras ini menjadi terperiksa dalam sidang hak angket DPRD Sulsel. Jumras mengaku, dirinya tidak mengetahui apa kesalahan yang telah dibuatnya hingga ia dicopot.

Saat itu ia ditanya mengenai alasan dirinya dicopot dari jabatannya oleh Gubernur Sulsel. Namun sebelum pencopotannya, dirinya ditemui oleh dua orang pengusaha bernama Anggu dan Fery. Dua pengusaha itu meminta proyek kepada dirinya.

“Saat Anggu dan Fery datang minta proyek, saya tidak langsung berikan. Di situ Angguk bercerita, bahwa dirinya telah menyetorkan uang sebesar Rp 10 miliar untuk memenangkan Nurdin Abdullah dalam Pilkada Sulsel,” ungkap Jumras. (*)